Diskusi Soal Minat Baca

Diskusi Soal Minat Baca

Apa yang saya tulis ini adalah murni hasil pemikiran saya sendiri ketika berdebat dengan diri sendiri. Informasinya bisa benar bisa juga salah. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan saya menulis. Saya hanya ingin mengekstrak isi kepala saya agar bisa menjadi sebuah karya literasi. Masalah benar atau salah itu urusan nanti jika sudah teruji. Jadi mohon untuk kebijaksanaannya. Trims

Minat baca masyarakat Indonesia disebut masih rendah bila dibandingkan negara lain. Dari data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun.
“Minat baca ini yang harus ditingkatkan dan diperjuangkan agar mereka tertarik membaca,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dalam pembukaan rakornas perpustakaan 2018 di Perpustakaan Nasional Jakarta, Senin (26/3).

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia

Berbicara tentang minat baca, saya punya prespektif lain tentang hal ini sejak saya menyusun skripsi saya di tahun 2010. Waktu itu saya merancang sebuah buku dasar-dasar Fotografi dengan kamera lubang jarum yang saya tulis sendiri. Ditengah penulisan, penyusunan strategi sampai saat ujian saya benar-benar dihadapkan dengan fakta bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang rendah. Tapi saya punya opini lain tentang hal tersebut.

Saat itu bisa dibilang saya sendiri bukan tipe orang yang gemar membaca. Frekuensi saya membaca mungkin bisa dibilang sangat rendah rata-rata hanya 1 kali perminggu. Tapi bukan itu masalahnya. Kala itu saya mulai berfikir dan menganalisa diri saya sendiri, kenapa saya punya minat baca yang rendah. Akhirnya saya menemukan prespektif lain melihat masalah rendahnya minat baca. Berikut ini ada 3 poin yang mungkin saja dapat menjadi root cause untuk diteliti lebih jauh.

Koleksi

Pemerintah telah menyadari jika koleksi buku-buku di perpustakaan tidak terlalu memadai. Hal ini sering saya alami ketika mencari buku diperpustakaan kampus dan kota. Asumsi saya kebanyakan dari kita ke perpus adalah untuk tujuan penulisan ilmiah. Maksudnya, mayoritas pengunjung perpus adalah mereka para siswa dan mahasiswa yang sedang mencari literasi untuk kepentingan penulisan mereka. Saya cukup yakin tidak ada yang benar-benar ke perpustakaan hanya ingin meluangkan waktu untuk membaca. Jikapun ada, mereka adalah satu orang diantara 1000 orang Indonesia yang gemar membaca. seperti yang diperkirakan UNESCO.

“Anggota Komisi X DPR Marlinda Irwanti menyatakan berdasar pada data UNESCO menyebutkan dari 1000 warga Indonesia, hanya satu orang saja yang memiliki minat untuk membaca.”

Posted By: Yan Bonnardo

Memang benar jika koleksi buku-buku kita terlampau tidak memadai. Tapi konteksnya menurut saya bukan koleksi buku saja tapi lebih kepada isi buku. Jika saja pemerintah menambah koleksi buku apakah masalah ini dapat terselesaikan? Saya yakin tidak.

Jika menurut Analisa saya, mayoritas masyarakat kita belum terbiasa untuk buku teks book yang memiliki paragraph Panjang. Mereka lebih suka membaca majalah, koran, komik atau buku lain yang memiliki jumlah teks minim.

Saya hanya berandai-andai dengan prespektif lain yang saya miliki. Analisa saya belum tentu benar tapi belum tentu juga salah. Bayangkan jika hal ini tidak terpikirkan lebih jauh, lalu pemerintah menggelontorkan dana untuk menambahkan koleksi buku-buku di perpustakaan. Ternyata minat baca menjadi meningkat drastis setelahnya. Saya akan sangat senang jika prediksi saya ternyata salah, tapi bagaimana jika ternyata tidak? Bukankah prediksi saya patut dipertimbangkan?

Jika saja prediksi saya akan diteliti lebih dalam untuk menilhat nilai kebenarannya, saya punya draft strategi untuk mengatasinya, yaitu dengan melakukan pendekatan baru yang mungkin cukup radikal dengan merubah metode penulisan. Kita perlu strategi dengan pendekatan khusus untuk menjemput minat baca, bukan menyuruhnya datang sendiri.

Saya dapat melihat dengan jelas solusi yang patut dicoba untuk mengatasi minat baca. Coba kita pahami lagi kata “minat”. Menurut Tampubolon (1991: 41) mengatakan bahwa minat adalah suatu perpaduan keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Jelas bahwa minat adalah suatu sikap ketertarikan. Coba pikir, apakah kalian atau orang lain akan tertarik untuk pergi ke perpustakaan atau toko buku untuk membaca buku jika koleksi buku bertambah? Disini kita bisa melihat asumsi saya tentang dimana letak permasalahannya. Diawal saya telah meng-asumsi-kan bahwa mereka pengunjung perpus dan toko buku memiliki alasan kebutuhan ilmiah. Dimana mereka sebenarnya memiliki masalah dan termotivas menyelesaikannya dengan buku. Disitulah seharusnya kita focus melihat masalah dari minat baca. Dengan begitu kita bisa menyusun strategi yang efektif dan efisien untuk menjemput minat baca. Tolong kesampingkan mereka para penikmat sastra. Jelas sekali jika mereka bukan kategori subjek yang saya bicarakan.

 

Harga

Saya tidak merekomendasikan perpustakaan kampus dan kota untuk menjadi bahan literasi, khususnya untuk keilmuan Seni & Desain. Dari pada ke perpus saya lebih sering ke toko buku untuk kebutuhan membaca gratis. Karena di toko buku koleksi bukunya lebih lengkap dan kita diijinkan membaca tapi tidak dijinkan menyalin isi buku dalam bentuk catatan dan foto. Saya cukup sering mengunjungi ditoko buku berjam-jam hanya untuk membaca gratis.

Saya berfikir mungkin akan cukup membantu jika ada subsidi atau diskon khusus untuk para pelajar dan mahasiswa jika membeli buku. Sewaktu saya masih mahasiswa saya jarang sekali membeli buku dan sulit mendapatkan buku bukan karna malas membaca tapi karna mahalnya harga buku.

 

Akses

Saya pernah berfikir, alasan orang malas membaca kebanyakan adalah karena tidak punya waktu luang. Sewaktu saya nongkrong diterminal untuk menunggu bis antar kota, saya mengamati perilaku orang-orang disekitar. Ditempat-tempat umum seperti terminal, stasiun dan bandara adalah tempat dimana selalu saja ada orang yang melakukan aktifitas menunggu, entah lama atau sebentar. Sewaktu saya menunggu bis yang kurang lebih akan tiba 1 jam lagi saya membayangkan, seandainya saja saya membawa buku atau akan lebih baik lagi jika diterminal ada buku yang bisa saya pinjam untuk menemani saya menunggu bis. Saat itulah saya mendapat ide. Jika saja kita bisa menyediakan ruang tunggu ditempat umum dimana ruangan tersebut didesain dan dilengkapi dengan koleksi buku-buku, mungkin saja kita bisa menarik orang untuk meluangkan waktu untuk membaca.

Itu lah 3 hal yang menjadi aspek saya jika saya diajak berdiskusi tentang masalah minat baca. Saya berkeyakinan bahwa sejatinya masyarakat kita bukannya tidak suka membaca, mereka hanya tidak terbiasa membaca buku. Saya bisa melihatnya dalam media social. Masyarakat kita sangat aktif dengan sosmed. Ketika mereka aktif menggunakan sosmed sebenarnya mereka juga melakukan aktifitas membaca dan menulis. Hal itu yang menjadi landasan saya ketika saya besitegang dengan 3 dosen penguji berdebat dengan masalah minat baca. Mereka berpendapat bahwa minat membaca itu ya baca buku, tapi saya bantah dengan tegas, salah Pak! Membaca ya membaca. Medianya bisa bermacam-macam tidak selalu buku. Buku memang penting tapi transfer knowledge tidak selalu harus dilakukan dengan buku.

Saya ini  adalah contoh konkrit orang yang awalnya tidak punya minat baca buku sekarang menjadi berkebutuhan dengan buku. Alasannya adalah karena saya butuh. Kenapa saya bisa membutuhkan buku? Saya telah menemukan bahwa ada peningkatan yang signifikan ketika desainer membiasakan diri dengan membaca buku.

Apa kolerasinya antara Desainer dan Buku? Mohon maaf, penjelasan spesifiknya akan saya ceritakan pada artikel lain karna artikel ini sudah cukup Panjang.

Salam Literasi!

 

Idealis vs Realis

Idealis vs Realis

Sebelum saya membahas topik ini ada baiknya kita sejajarkan definisi kita dengan apa itu Idealis dan apa itu Realis.

idealisme/ide·al·is·me/ /idéalisme/ n 1 aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; 2 hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; 3 Sas aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

realisme/re·al·is·me/ /réalisme/ n 1 paham atau ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan; 2 aliran kesenian yang berusaha melukiskan (menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya); — sosialis estetika dan filsafat seni yang dirancang oleh Lenin, yang tunduk pada kaidah komunis dan menggambarkan perjuangan kaum proletar melawan kaum borjuis.

(Sumber : KKBI)

Gimana? Ribet ya artinya… saya hanya bisa menujukan pengertian tersebut dengan mengutip dari KKBI. Jika kalian browsing definisinya sendiri, kalian akan menemukan pengertian yang serupa ribetnya.

Sekarang saya coba sederhanakan definisinya berdasarkan ciri-ciri individu yang memiliki sifat-sifat tersebut.

Idealis : adalah individu yang memiliki keyakinan dan gagasan kuat untuk bertindak anti-mainstream. Biasanya orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang keras kepala. Jika mereka sudah memiliki tujuan mereka akan melakukannya dengan cara yang dia yakin. Masalah orang lain mau ngomong apa dan berkeyakinan apa, dia mah bodo’ amat.

Memang seperti itu kebanyakan sifat dari idealis. Tapi jangan salah, mereka adalah orang-orang pemikir dan juga pemberontak. Mereka adalah pioneer dari perkembangan. Saya yakin, kalimat “think out of the bos” diciptakan oleh kaum idealis. Pelakunya juga sama.

Realis : adalah individu yang memiliki sikap dan pola piker untuk mengikuti arus. Kebalikan dari Idealis. Kaum realis biasanya berfikir logis, patuh dan sportif terhadap aturan. Orang seperti ini biasanya mereka yang formal, cenderung untuk bermain aman dan tidak berani mengambil resiko.

Nah, sekarang kita telah mengenal masing-masing sifat dari Idealis dan Realis. Sekarang kalian bisa menilai diri sendiri apakah kalian orang yang idealis atau realis. Tapi bukan itu topik yang ingin saya sampaikan. Dalam kebanyakan aspek, Idealis dan realis selalu jadikan lawan. Dalam artikel ini saya ingin membuat peleraian diantaranya.

Idealis dan Realis itu seperti dua sisi mata koin, seperti Yin-Yang. Mereka bisa dikatakan lawan dan juga kawan, tapi bukan itu masalahnya. Untuk mencapai keberhasilan idealis dan realis harus selaras. Maksudnya adalah kerja sama. Kaum idealis akan selalu membutuhkan kaum realis untuk mewujudkan ide/gagasannya, sedangkan kaum realis akan selalu membutuhkan kaum idealis untuk menciptakan perubahan.

Nah, sekarang masalahnya adalah saya sering menemukan beberapa kawan gagal paham dengan hal tersebut. Khususnya saudara seperguruan di dunia persilatan Seni & Desain. Masalah idealis dan realis adalah masalah rumah tangga yang selalu bikin kita berantakan. Yang realis merasa dirinya idealis sehingga memaksakan diri untuk berpikir Idealis. Sebaliknya sang Idealis befikir bahwa dialah yang seharusnya Idealis, yang lain cuma numpang.

Memandang semua itu dan menimbang experiment bisnis yang saya lakukan pada diri saya sendiri, kita semua dapat menjadi kedua-duanya, bukan salah satunya. Dalam berproses penciptaan karya saya menggunkakan sisi Idealis. Sedangkan proses dalam manajemen proyek, waktu, dealing with client saya menggunakan sisi realis. Harap maklum, saya solo karir. Jadi saya harus benar-benar mengontrol kapan saya harus menjadi Idealis dan kapan harus Realis.

Saya cukup yakin jika beberapa orang mungkin menyadari cara kerja antara Idealis dan Realis hanya saja saya lebih yakin jika tidak semua orang bisa mengontrolnya.

Terus terang praktek saya dalam mengenali klien saya ini orang yang seperti apa, apakah dia realis atau idealis, hal itu dapat membuat posisi kami saling menguntungkan dalam hal berbisnis. Jika saya bertemu dengan klien tipe realis maka saya akan menjadi orang yang idealis dengan memberikan ide/gagasan yang benar-benar baru. Karena klien adalah orang yang realis pastinya dia akan berfikir logis dan menimbang resiko jika melakukan/menentukan keputusan untuk sesuatu yang baru. Nah, disinilah saya dapat mengimbanginya dengan mengeluarkan sisi realis saya untuk support pemikiran klien. Bentuk Support yang saya lakukan adalah biasanya menjelaskan secara logis tentang bagaimana proses kreatif dan manajemen Desain dapat meminimalkan resiko-resiko yang merugikan pihak klien.

Kalian tidak perlu menjadi orang yang idealis dan realis seperti saya. Kalian hanya perlu mengenali kedua-duanya dengan baik agar kalian dapat befikir dan mengambil keputusan dengan lebih bijak. Tidak semua klien itu buruk dan tidak semua desainer itu baik. Kedua-duanya bisa saja sama-sama buruk jika tak saling kerja sama. Desainer berpatokan bahwa dirinya adalah problem solver sedangkan klien berpatokan bahwa dirinya adalah produser. Dua-duanya tidak sama-sama benar tidak juga salah. Mereka hanya tidak mau mengalah untuk tujuan bersama.

Sebenarnya topik ini bisa melebar kemana-mana jika membahas Desainer vs Klien. Jadi, mungkin segitu dulu prespektif saya dengan Idealis vs Realis. Langkah selanjutnya yang perlu kalian lakukan adalah teruslah membaca…*maksudnya baca buku!

Salam pramuka!

 

Kata Bagus

Kata Bagus

Kata Bagus tentu saja memiliki arti dan definisi selayaknya dalam kamus bahasa. Tetapi kata Bagus tidak memiliki tolok ukur yang jelas jika dibawa kearah penilaian.

“Bagaimana menurut anda tentang hal ini…?, hal itu?, hal tersebut? Dan hal bla..bla..bla”

“Bagus” adalah Jawaban yang singkat, padat tak berisi, gamang, bimbang tak bermakna, berbobot tanpa berat. Kata, ungkapan dan penilaian dengan kata Bagus, sifatnya relative. Sebagai seorang desainer Saya sering sekali mendapatkan permohonan seperti ini :

“Tolong dibuatkan yang bagus”

“Tolong ini di desain yang bagus”

“Tolong itu visualnya dipercantik”

Saya pernah suatu kali ditampar complain dengan huruf balok yang diketik menggunakan Arial Black 24pt : Mas, ini tolong diperbagus, warnanya dipercantik biar gak surem, mungkin outlinenya bisa dibuat sedikit luwes, dipoles dengan tambahan ornament warna-warna yang lembut..

Saya baca lagi pesannya, saya perhatikan baik-baik, saya coba baca berulang kali sampai saya pahami, tapi tak pernah berhasil. Kumpulan kata-kata Bagus, cantik, luwes, dipoles, lembut itu membuat saya semakin bingung, walaupun saya tahu masing-masing arti katanya. Saya seperti sedang berada didalam salon memperhatikan ibu dari mempelai wanita yang sedang cerewet dengan penata rambut.

Karna tak kuat menerima bingung, tanpa rasa jengkel dengan sedikit terpingkal, saya mengembalikan kebingungan tersebut dengan membalas pesannya seperti ini:

Mohon maaf Bapak-Ibu, Mbak-Mas, Adek-Kakak….

Ciiyee, Adek-Kakak… Ciiyee

Bagus, cantik, luwes, dipoles, lembut itu memiliki definisi yang relative dalam pemahaman saya. Mohon lampirkan gambar/diagram/coretan sederhana untuk membantu saya memahami maksud Anda.

Peach!

Sedikit cerita tadi sebenarnya adalah sebuah keluhan tentang salah satu klien saya yang jika memberikan brief itu perintahnya pakai peribahasa. Mungkin sebagian dari kita punya pengalaman yang sama. Tapi karna kita mengerti dengan kosakata tersebut kita bisa paham apa yang sedang dibicarakan klien.

Hal tersebut umumnya dianggap biasa tapi menurut saya sebenarnya jika terlalu sering menggunakan Bahasa/kata yang perintahnya tidak/kurang spesifik dalam hal design brief hal tersebut bisa membuat kita salah menerjemahkan kebutuhan klien/customer. Dan akhirnya salah paham.

Dalam proses desain, kata Bagus itu relatif untuk setiap orang. Saya personal tidak mengukur hasil desain dengan kata bagus atau jelek. Saya lebih suka menggunakan kata Efektif dan Efisien. Kenapa begitu? Karena kesuksesan produk desain itu diukur dari seberapa efektif dan seberapa efisien cara kerjanya. Jadi intinya gunakanlah kata yang spesifik. Jika kita atau klien kesulitan untuk mengungkapkan maksud kata gunakanlah gambar, foto atau contoh originalnya agar kita punya pemahaman yang sama.

Semoga anda tidak bingung 🙂

Fokus Kuliah atau Organisasi

Fokus Kuliah atau Organisasi

Saat saya menjadi mahasiswa DKV saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Saya ingin menyerap semua kesempatan dalam hal mata kuliah, pergaulan, organisasi, dan semua. Sebagai mahasiswa DKV Saya bukan lagi orang awam yang buta program-program grafis. Saya sudah menguasainya sewaktu saya di institute salah jurusan. Setiap tugas-tugas kulaih yang berpotensi menjadi uang diluar kampus, saya garap serius. Jadi sebagian besar, tugas-tugas kuliah saya adalah garapan real, bukan fiktif yang hanya sebagai tugas untuk mendapatkan nilai.

Seluruh mata kuliah dari semester awal hingga akhir saya petakan, saya analisis lalu saya setting dengan cara saya sendiri agar saya bisa lulus dengan target IPK yang saya tentukan. Kalian mungkin tidak akan percaya bahwa waktu itu saya punya cara bagaimana saya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Hamper setiap semester IPK saya selalu 3 koma sekian. Metode yang saya pakai bukanlah metode ilmiah tapi buat saya waktu itu cukuplah efektif. Ini bukan cara curang ya… cara yang saya gunakan adalah metode dari teori Goal Setting dan manajemen waktu.

Didalam organisasi saya cukup aktif. Aktif Sekali! Sampai tiap hari, kuliah atau tidak saya selalu ada disana. Pulang ke kos hanya jika ada keperluan khusus, seperti mengerjakan tugas, cuci baju dan mungkin menyendiri.

Tidak sedikit orang tua, dosen dan mungkin teman dekat menyarankan “kalau kuliah kuliah aja… gak usah ikut-ikutan organisasi, ntar kuliahnya gak focus (molor)”. Menurut saya itu adalah saran dan pemikiran yang keliru. Saya cukup termotifasi untuk ikut organisasi kampus karena saya melihat ada banyak peluang disana. Selain itu, suasananya sangat friendly. Saya bisa kenal lebih banyak teman selain teman sekelas. Saya juga terlibat dalam event-event organisasi, bebas bergaul tapi sopan, bebas beraktifitas dalam kreatifitas sendiri atau orang lain. Jadi waktu itu saya berfikir, sangat disayangkan jika saya hanya melakukan aktifitas kuliah yang biasa-biasa saja. Ke kampus, kuliah, ngerjain tugas, trus tiba-tiba lulus. Tidak ada pengalaman tambahan, tidak ada teman bergaul, hambar tak punya cerita.

Jujur saja, ketika saya berkecimpung dalam organisasi, disinilah saya mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran tentang desain, bisnis dan bagaimana mengorganisasikannya. Saya dapat dengan leluasa mengaplikasikan ilmu-ilmu didalam kelas untuk dieksperimenkan dengan kondisi nyata dilapangan.

Selain itu, Organisasi tidak bisa disalahkan jika kuliah kalian yang molor. Jika kuliah kalian molor karna ikut oranisasi itu tandanya kalian tidak bisa me-manage waktu. Saya bisa membuktikannya dengan diri saya sendiri. Saya kuliah, saya juga aktif di beberapa organisasi, kerja freelance juga ia. Tapi kuliah IPK selalu 3 koma, organisasi sukses, freelance juga sukses. Lulus dengan IPK 3,4 cukup memuaskan. Happy Ending.

Kuncinya Cuma satu, yaitu: manajemen waktu. Jika kalian tidak bisa mengatur waktu, seumur hidup kalian akan kesulitan untuk meraih kesuksesan.

Menurut saya masa perkuliahan bukan hanya bertujuan untuk belajar dan lulus saja. Kita harus memanfaatkan waktu, tempat dan segala resource yang ada untuk bereksperimen dan mewujudkannya dengan ide-ide gila kita, lalu kita belajar dari segala prosesnya. Disitulah sebenarnya fungsi Organisasi Mahasiswa sebagai wadah experiment dan meraih pengalaman bermanfaat yang bisa kita gunakan untuk mencari nafkah.

Banyak dari kita yang tidak sadar akan hal tersebut. Tapi setelah saya Analisa lebih jauh masa-masa saya di organisasi dengan aktifitas pekerjaan saya sekarang, korelasinya sangat relevan.

Setiap perusahaan besar umumnya selalu punya event tahunan. Entah itu event perayaan atau event strategis untuk tujuan promosi. Nah, jika kita yang sebagai karyawan ditunjuk untuk menjadi panitia atau koordinator dari event tersebut, pengalaman berorganisasi akan sangat dibutuhkan. Bagaimana membuat sebuah acara, apa saja yang dibutuhkan, bagaimana menyiapkan peralatan untuk orang banyak, bagaimana menyiasati publikasi event, dll.

Bayangkan, jika event yang kita koordinatori adalah event yang dianggap penting untuk citra perusahaan. Dan ketika event tersebut kita garap ternyata membuahkan hasil yang membuat semua orang puas. Saya tidak menjamin bahwa kita akan mendapatkan promosi, yang jelas kita akan dipercaya dan mungkin akan menjadi panitia langganan (setiap event selalu terlibat).

Jika hal tersebut kita jalani terus-menerus, pengalaman kita akan berkembang dengan sendirinya dan akan menjadi semakin ahli dalam mengelola event atau bisa juga proyek-proyek lain. Nah, disinilah manfaatnya, kita akan punya nilai plus (value) diantara rekan kerja, atasan dan perusahaan.

Saya bekerja sebagai Desainer di perusahaan tambang kelas dunia. Sejak saya bekerja sampai saat tulisan ini saya buat saya tidak pernah lolos sebagai daftar panitia untuk segala event major diperusahaan. Percaya atau tidak segala pengalaman yang sudah saya jalani semasa di organisasi sangat…sangat berguna!

Prinsip saya sewaktu saya jadi mahasiswa adalah memaksimalkan yang minimal dan selalu termotifasi untuk melakukan hal-hal yang sulit. Saya tidak akan membedah satu per satu kesulitan apa saja yang saya alami sewaktu jadi mahasiswa, yang jelas hidup saya lebih sulit dari pada kalian yang sekarang atau teman sekelas saya. Tapi setiap kesulitan tersebut selalu memberikan saya pengalaman terbaik ketika saya berusaha menyelesaikannya.

Jadi lebih penting kuliah atau organisasi? Jawabannya adalah semuanya penting jika kalian bisa memanfaatkan waktu untuk lebih banyak berproses.

Semoga certia saya ini tidak menyesatkan kalian!

Why I Choose Design

Why I Choose Design

Tahun 2007 saya resmi diterima sebagai mahasiswa di universitas negeri kota Malang jurusan Seni & desain program Pendidikan Desain Komunikasi Visual. Itu adalah langkah pertama saya untuk mengembangkan diri lebih jauh. Saya sudah terlanjur terjebak dalam dunia desain kini saatnya saya melengkapi diri dengan lebih banyak lagi ilmu, pengalaman dan menjadi expert.

Saya menyadari bahwa saat itu desain belum begitu memukau seperti sekarang karena perkembangan digital belum semarak sekarang. Dan saya menyadari bahwa saya sedang ada dimasa transisi bisnis kreatif dimana saatnya nanti Desainer akan menjadi komoditas utama dalam urusan inovasi dan kreatifitas.

Melihat peluang tersebut, keputusan saya untuk meneruskan Pendidikan di jenjang S1 terbilang cukup beresiko karena ketika saya meminta ijin orang tua untuk melanjutkan Pendidikan orang tua saya kurang setuju karna terkendala biaya sudah tidak mencukupi dan mereka menyarankan saya untuk bekerja saja. Kerja apa saja yang penting bisa berpenghasilan. Saya kurang setuju dengan itu. Saya yakin jika saya punya potensi untuk berkembang lebih jauh dalam dunia desain. Akhirnya saya cari cara sendiri untuk mengejar apa yang saya mau.

Setelah mencari informasi dan review, awalnya saya membidik ITB untuk melanjutkan Pendidikan desain saya. Second option adalah universitas negeri Malang. Rencana saya waktu itu adalah mencari pekerjaan di kota bandung agar bisa membiayai hidup dan kuliah. Saya melamar disebuah surat kabar sebagai perawat hewan peliharaan. Rencana saya hamper saja berhasil, sayangnya ketika interview saya ditanya kenapa ingin pekerjaan tersebut, karna terlalu jujur saya jawab bahwa saya sedang ingin menempuh Pendidikan S1 dikota bandung dan saya butuh biaya hidup agar saya bisa kuliah. Dan mereka menolak karena mereka piker jika hal tersebut yang menjadi tujuan saya maka saya tidak akan bisa bekerja dengan baik. Sambal menunggu pendaftaran mahasiswa baru dibuka saya terus mencari peluang pekerjaan dikota bandung dari informasi di koran.

Akhirnya waktu pendaftaran telah dibuka. Saya mengikuti semua tes SMPTB, dll (saya lupa nama dari 2 tes yang lain). Dalam tes, program studi yang saya pilih adalah Desain Komunikasi Visual untuk 2 kampus berbeda, ITB dan Univestitas Negeri Malang. Setelah tes, beberapa hari berikutnya hasil tes keluar dan saya diterima di Universitas Negeri Malang.

Saya lulus ditahun 2012 dengan IPK 3.4 adalah nilai yang cukup memuaskan. Apa yang menjadi prediksi saya tentang dunia desain sekarang mulai terlihat ketika perkembangan teknologi digital berevolusi menjadi komoditas penting. Program-program desain sekarang menjamur bahkan sekolah kejuruan sekarang sudah ada Pendidikan khusus untuk desain. Kata dan profesi Desainer sekarang dikenal sebagai Tukang Gambar. Walau pun agak meleset tapi setidaknya sudah mendingan dari pada dibilang tukang bikin baju.

Jika kalian membaca artikel saya sebelumnya yang bejudul “Hello Design!” saya tidak punya rencana untuk belajar dan terjun berprofesi sebagai Desainer. Dan artikel ini menceritakan tentang alasan saya kenapa memilih desain telah saya jawab di paragraph kedua. Lalu, ini adalah alasan saya ingin tetap berprofesi dalam dunia desain adalah saya ingin membantu kalian dan mungkin saya sendiri untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan desain agar masyarakat didalam dan diluar desain dapat lebih mengerti apa itu Desain dan siapa itu Desainer.

So, Semoga menginspirasi!

Hello Design!

Hello Design!

First meet with design

Saya tinggal di kabupaten Bondowoso. Kota kecil di pulau jawa paling timur. Saya lulus SMA tahun 2005. Sebelum lulus sekolah saya didatangi tim marketing dari sebuah institute swasta untuk mempromosikan program-progam Pendidikan profesi yang lokasinya di kota Malang.

Institut swasta ini menawarkan program-program Pendidikan tingkat lanjut setelah SMA untuk memberikan keahlian profefsi agar dapat memiliki keahlian spesifik dalam dunia kerja. Ada beberapa program pedidikan yang mereka tawarkan tapi saya hanya tertarik dengan program Pendidikan computer. Saat itu computer adalah barang baru, benar-benar baru. Saya dan teman-teman saya hanya anak dari petani dan buruh pabrik yang hanya kenal speak bola, layangan dan sawah. Rasanya akan cukup keren jika saya bisa bongkar dan utak-atik barang elektronik yang bernama computer.

Detail ceritanya bagaimana setelah itu saya tidak ingat lagi. Yang saya ingat adalah setelah lulus SMA saya dan satu orang teman saya berangkat ke kota Malang untuk mendaftar di institute tersebut. Singkat cerita kamipun diterima lalu mencari info rumah kos didekat lokasi.

Setelah 6 bulan menjalani program Pendidikan saya baru sadar ternyata saya salah mengambil jurusan. Keinginan pertama saya adalah program Pendidikan informatika dimana saya akan diajarkan program-program computer dan menjadi teknisi computer. Tetapi ternyata yang diajarkan adalah program-program aplikasi desain dimana saya disetting menjadi seorang Desainer Grafis.

Haha, kalian tau…itu seperti kalian sedang berada didalam kereta tetapi ditengah perjalanan kalian sadar jika kereta tersebut sedang membawa kalian ketempat yang tidak sedang kalian tuju.

Lalu apa yang saya lakukan setelah menyadari kalau saya salah jurusan? Keep calm and stay cool. Saya tetap menyelesaikan tugas-tugas dan mendalami praktik-praktik program aplikasi Desain Grafis dan Animasi. Desain grafis ternyata cukup menyenangkan juga. “Saya bisa membuat sesuatu dengan ini” itu adalah pendapat saya tentang desain.

Di saat itu, desain dan desainer bukanlah komoditas yang cukup popular seperti sekarang. Banyak orang yang belum mengenal apa itu desain dan profesi desainer. Teman saya di kampung bilang, “Desainer??? Oh, yang suka bikin-bikin baju itu ya?”

Pekerjaan dan program aplikasi desain grafis waktu itu masih dimonopoli oleh agensi-agensi periklanan. Seperti, majalah, koran dan media pubilkasi outdoor. Setelah lulus dari institute saya sempat magang dan bekerja di sebauh perusahaan advertising di kota Malang. Pengalaman tersebut tidak lama, hanya skitar 6 bulan saja. Tetapi selama saya disana saya mendapat banyak pengetahuan tentang proses pra-cetak dan produksi media cetak massal (cetak offset). Saya ingat, 1 bulan sebelum saya pamit dari advertising, mereka baru saja membeli mesin cetak baru untuk memproduksi billboard. Saya ingat betul, mesin itu adalah mesin cetak digital yang akan merubah jalannya bisnis advertising.

Disekitar kita banyak sekali orang sering melakukan kesalahan, salah satunya adalah salah jurusan. Tapi setiap kesalahan apapun bentuknya menurut saya itu adalah hal yang wajar. Bahkan mungkin saat ini mereka yang sedang menjalani kuliah diprogram Pendidikan apapun masih banyak yang merasa salah jurusan. Jika anda adalah salah satu dari mereka, saran saya adalah kalian jangan sia-siakan waktu kalian. Salah jurusan belum tentu salah masa depan.

Bahkan orang-orang besar seperti Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg tidak pernah tamat kuliah, tetapi mereka tetap bisa sukses. Jurusan dan perkuliahan itu tidak selamanya akan menentukan kesuksean kita dimasa depan. Dan yang saya tahu, semua orang sukses tidak pernah rela membiarkan waktunya terbuang sia-sia. Kita boleh saja nanti punya profesi yang tidak pernah ada kaitannya dengan perkuliahan kita, tapi yakinlah apapun yang kita pelajari tidak ada yang sia-sia. Mungkin tidak untuk pekerjaan kita, tapi pasti akan berguna untuk hal lainnya nanti. Prinsip saya adalah jika ada kesempatan pelajarilah segala hal, karena kita tidak akan tahu keahlian apa yang akan kita butuhkan nanti untuk kesuksesan kita.

Itu adalah sedikit cerita yang bisa saya sharing tentang pengalama pertama saya memilih desain. Next artikel saya akan menceritakan why I choose design. Semoga menginspirasi!

 

Pin It on Pinterest