Diskusi Soal Minat Baca

by | Sep 22, 2018 | Article | 0 comments

Apa yang saya tulis ini adalah murni hasil pemikiran saya sendiri ketika berdebat dengan diri sendiri. Informasinya bisa benar bisa juga salah. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan saya menulis. Saya hanya ingin mengekstrak isi kepala saya agar bisa menjadi sebuah karya literasi. Masalah benar atau salah itu urusan nanti jika sudah teruji. Jadi mohon untuk kebijaksanaannya. Trims

Minat baca masyarakat Indonesia disebut masih rendah bila dibandingkan negara lain. Dari data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun.
“Minat baca ini yang harus ditingkatkan dan diperjuangkan agar mereka tertarik membaca,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dalam pembukaan rakornas perpustakaan 2018 di Perpustakaan Nasional Jakarta, Senin (26/3).

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia

Berbicara tentang minat baca, saya punya prespektif lain tentang hal ini sejak saya menyusun skripsi saya di tahun 2010. Waktu itu saya merancang sebuah buku dasar-dasar Fotografi dengan kamera lubang jarum yang saya tulis sendiri. Ditengah penulisan, penyusunan strategi sampai saat ujian saya benar-benar dihadapkan dengan fakta bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang rendah. Tapi saya punya opini lain tentang hal tersebut.

Saat itu bisa dibilang saya sendiri bukan tipe orang yang gemar membaca. Frekuensi saya membaca mungkin bisa dibilang sangat rendah rata-rata hanya 1 kali perminggu. Tapi bukan itu masalahnya. Kala itu saya mulai berfikir dan menganalisa diri saya sendiri, kenapa saya punya minat baca yang rendah. Akhirnya saya menemukan prespektif lain melihat masalah rendahnya minat baca. Berikut ini ada 3 poin yang mungkin saja dapat menjadi root cause untuk diteliti lebih jauh.

Koleksi

Pemerintah telah menyadari jika koleksi buku-buku di perpustakaan tidak terlalu memadai. Hal ini sering saya alami ketika mencari buku diperpustakaan kampus dan kota. Asumsi saya kebanyakan dari kita ke perpus adalah untuk tujuan penulisan ilmiah. Maksudnya, mayoritas pengunjung perpus adalah mereka para siswa dan mahasiswa yang sedang mencari literasi untuk kepentingan penulisan mereka. Saya cukup yakin tidak ada yang benar-benar ke perpustakaan hanya ingin meluangkan waktu untuk membaca. Jikapun ada, mereka adalah satu orang diantara 1000 orang Indonesia yang gemar membaca. seperti yang diperkirakan UNESCO.

“Anggota Komisi X DPR Marlinda Irwanti menyatakan berdasar pada data UNESCO menyebutkan dari 1000 warga Indonesia, hanya satu orang saja yang memiliki minat untuk membaca.”

Posted By: Yan Bonnardo

Memang benar jika koleksi buku-buku kita terlampau tidak memadai. Tapi konteksnya menurut saya bukan koleksi buku saja tapi lebih kepada isi buku. Jika saja pemerintah menambah koleksi buku apakah masalah ini dapat terselesaikan? Saya yakin tidak.

Jika menurut Analisa saya, mayoritas masyarakat kita belum terbiasa untuk buku teks book yang memiliki paragraph Panjang. Mereka lebih suka membaca majalah, koran, komik atau buku lain yang memiliki jumlah teks minim.

Saya hanya berandai-andai dengan prespektif lain yang saya miliki. Analisa saya belum tentu benar tapi belum tentu juga salah. Bayangkan jika hal ini tidak terpikirkan lebih jauh, lalu pemerintah menggelontorkan dana untuk menambahkan koleksi buku-buku di perpustakaan. Ternyata minat baca menjadi meningkat drastis setelahnya. Saya akan sangat senang jika prediksi saya ternyata salah, tapi bagaimana jika ternyata tidak? Bukankah prediksi saya patut dipertimbangkan?

Jika saja prediksi saya akan diteliti lebih dalam untuk menilhat nilai kebenarannya, saya punya draft strategi untuk mengatasinya, yaitu dengan melakukan pendekatan baru yang mungkin cukup radikal dengan merubah metode penulisan. Kita perlu strategi dengan pendekatan khusus untuk menjemput minat baca, bukan menyuruhnya datang sendiri.

Saya dapat melihat dengan jelas solusi yang patut dicoba untuk mengatasi minat baca. Coba kita pahami lagi kata “minat”. Menurut Tampubolon (1991: 41) mengatakan bahwa minat adalah suatu perpaduan keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Jelas bahwa minat adalah suatu sikap ketertarikan. Coba pikir, apakah kalian atau orang lain akan tertarik untuk pergi ke perpustakaan atau toko buku untuk membaca buku jika koleksi buku bertambah? Disini kita bisa melihat asumsi saya tentang dimana letak permasalahannya. Diawal saya telah meng-asumsi-kan bahwa mereka pengunjung perpus dan toko buku memiliki alasan kebutuhan ilmiah. Dimana mereka sebenarnya memiliki masalah dan termotivas menyelesaikannya dengan buku. Disitulah seharusnya kita focus melihat masalah dari minat baca. Dengan begitu kita bisa menyusun strategi yang efektif dan efisien untuk menjemput minat baca. Tolong kesampingkan mereka para penikmat sastra. Jelas sekali jika mereka bukan kategori subjek yang saya bicarakan.

 

Harga

Saya tidak merekomendasikan perpustakaan kampus dan kota untuk menjadi bahan literasi, khususnya untuk keilmuan Seni & Desain. Dari pada ke perpus saya lebih sering ke toko buku untuk kebutuhan membaca gratis. Karena di toko buku koleksi bukunya lebih lengkap dan kita diijinkan membaca tapi tidak dijinkan menyalin isi buku dalam bentuk catatan dan foto. Saya cukup sering mengunjungi ditoko buku berjam-jam hanya untuk membaca gratis.

Saya berfikir mungkin akan cukup membantu jika ada subsidi atau diskon khusus untuk para pelajar dan mahasiswa jika membeli buku. Sewaktu saya masih mahasiswa saya jarang sekali membeli buku dan sulit mendapatkan buku bukan karna malas membaca tapi karna mahalnya harga buku.

 

Akses

Saya pernah berfikir, alasan orang malas membaca kebanyakan adalah karena tidak punya waktu luang. Sewaktu saya nongkrong diterminal untuk menunggu bis antar kota, saya mengamati perilaku orang-orang disekitar. Ditempat-tempat umum seperti terminal, stasiun dan bandara adalah tempat dimana selalu saja ada orang yang melakukan aktifitas menunggu, entah lama atau sebentar. Sewaktu saya menunggu bis yang kurang lebih akan tiba 1 jam lagi saya membayangkan, seandainya saja saya membawa buku atau akan lebih baik lagi jika diterminal ada buku yang bisa saya pinjam untuk menemani saya menunggu bis. Saat itulah saya mendapat ide. Jika saja kita bisa menyediakan ruang tunggu ditempat umum dimana ruangan tersebut didesain dan dilengkapi dengan koleksi buku-buku, mungkin saja kita bisa menarik orang untuk meluangkan waktu untuk membaca.

Itu lah 3 hal yang menjadi aspek saya jika saya diajak berdiskusi tentang masalah minat baca. Saya berkeyakinan bahwa sejatinya masyarakat kita bukannya tidak suka membaca, mereka hanya tidak terbiasa membaca buku. Saya bisa melihatnya dalam media social. Masyarakat kita sangat aktif dengan sosmed. Ketika mereka aktif menggunakan sosmed sebenarnya mereka juga melakukan aktifitas membaca dan menulis. Hal itu yang menjadi landasan saya ketika saya besitegang dengan 3 dosen penguji berdebat dengan masalah minat baca. Mereka berpendapat bahwa minat membaca itu ya baca buku, tapi saya bantah dengan tegas, salah Pak! Membaca ya membaca. Medianya bisa bermacam-macam tidak selalu buku. Buku memang penting tapi transfer knowledge tidak selalu harus dilakukan dengan buku.

Saya ini  adalah contoh konkrit orang yang awalnya tidak punya minat baca buku sekarang menjadi berkebutuhan dengan buku. Alasannya adalah karena saya butuh. Kenapa saya bisa membutuhkan buku? Saya telah menemukan bahwa ada peningkatan yang signifikan ketika desainer membiasakan diri dengan membaca buku.

Apa kolerasinya antara Desainer dan Buku? Mohon maaf, penjelasan spesifiknya akan saya ceritakan pada artikel lain karna artikel ini sudah cukup Panjang.

Salam Literasi!

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Pin It on Pinterest

Share This