Idealis vs Realis

by | Sep 21, 2018 | Article | 0 comments

Sebelum saya membahas topik ini ada baiknya kita sejajarkan definisi kita dengan apa itu Idealis dan apa itu Realis.

idealisme/ide·al·is·me/ /idéalisme/ n 1 aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; 2 hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; 3 Sas aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

realisme/re·al·is·me/ /réalisme/ n 1 paham atau ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan; 2 aliran kesenian yang berusaha melukiskan (menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya); — sosialis estetika dan filsafat seni yang dirancang oleh Lenin, yang tunduk pada kaidah komunis dan menggambarkan perjuangan kaum proletar melawan kaum borjuis.

(Sumber : KKBI)

Gimana? Ribet ya artinya… saya hanya bisa menujukan pengertian tersebut dengan mengutip dari KKBI. Jika kalian browsing definisinya sendiri, kalian akan menemukan pengertian yang serupa ribetnya.

Sekarang saya coba sederhanakan definisinya berdasarkan ciri-ciri individu yang memiliki sifat-sifat tersebut.

Idealis : adalah individu yang memiliki keyakinan dan gagasan kuat untuk bertindak anti-mainstream. Biasanya orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang keras kepala. Jika mereka sudah memiliki tujuan mereka akan melakukannya dengan cara yang dia yakin. Masalah orang lain mau ngomong apa dan berkeyakinan apa, dia mah bodo’ amat.

Memang seperti itu kebanyakan sifat dari idealis. Tapi jangan salah, mereka adalah orang-orang pemikir dan juga pemberontak. Mereka adalah pioneer dari perkembangan. Saya yakin, kalimat “think out of the bos” diciptakan oleh kaum idealis. Pelakunya juga sama.

Realis : adalah individu yang memiliki sikap dan pola piker untuk mengikuti arus. Kebalikan dari Idealis. Kaum realis biasanya berfikir logis, patuh dan sportif terhadap aturan. Orang seperti ini biasanya mereka yang formal, cenderung untuk bermain aman dan tidak berani mengambil resiko.

Nah, sekarang kita telah mengenal masing-masing sifat dari Idealis dan Realis. Sekarang kalian bisa menilai diri sendiri apakah kalian orang yang idealis atau realis. Tapi bukan itu topik yang ingin saya sampaikan. Dalam kebanyakan aspek, Idealis dan realis selalu jadikan lawan. Dalam artikel ini saya ingin membuat peleraian diantaranya.

Idealis dan Realis itu seperti dua sisi mata koin, seperti Yin-Yang. Mereka bisa dikatakan lawan dan juga kawan, tapi bukan itu masalahnya. Untuk mencapai keberhasilan idealis dan realis harus selaras. Maksudnya adalah kerja sama. Kaum idealis akan selalu membutuhkan kaum realis untuk mewujudkan ide/gagasannya, sedangkan kaum realis akan selalu membutuhkan kaum idealis untuk menciptakan perubahan.

Nah, sekarang masalahnya adalah saya sering menemukan beberapa kawan gagal paham dengan hal tersebut. Khususnya saudara seperguruan di dunia persilatan Seni & Desain. Masalah idealis dan realis adalah masalah rumah tangga yang selalu bikin kita berantakan. Yang realis merasa dirinya idealis sehingga memaksakan diri untuk berpikir Idealis. Sebaliknya sang Idealis befikir bahwa dialah yang seharusnya Idealis, yang lain cuma numpang.

Memandang semua itu dan menimbang experiment bisnis yang saya lakukan pada diri saya sendiri, kita semua dapat menjadi kedua-duanya, bukan salah satunya. Dalam berproses penciptaan karya saya menggunkakan sisi Idealis. Sedangkan proses dalam manajemen proyek, waktu, dealing with client saya menggunakan sisi realis. Harap maklum, saya solo karir. Jadi saya harus benar-benar mengontrol kapan saya harus menjadi Idealis dan kapan harus Realis.

Saya cukup yakin jika beberapa orang mungkin menyadari cara kerja antara Idealis dan Realis hanya saja saya lebih yakin jika tidak semua orang bisa mengontrolnya.

Terus terang praktek saya dalam mengenali klien saya ini orang yang seperti apa, apakah dia realis atau idealis, hal itu dapat membuat posisi kami saling menguntungkan dalam hal berbisnis. Jika saya bertemu dengan klien tipe realis maka saya akan menjadi orang yang idealis dengan memberikan ide/gagasan yang benar-benar baru. Karena klien adalah orang yang realis pastinya dia akan berfikir logis dan menimbang resiko jika melakukan/menentukan keputusan untuk sesuatu yang baru. Nah, disinilah saya dapat mengimbanginya dengan mengeluarkan sisi realis saya untuk support pemikiran klien. Bentuk Support yang saya lakukan adalah biasanya menjelaskan secara logis tentang bagaimana proses kreatif dan manajemen Desain dapat meminimalkan resiko-resiko yang merugikan pihak klien.

Kalian tidak perlu menjadi orang yang idealis dan realis seperti saya. Kalian hanya perlu mengenali kedua-duanya dengan baik agar kalian dapat befikir dan mengambil keputusan dengan lebih bijak. Tidak semua klien itu buruk dan tidak semua desainer itu baik. Kedua-duanya bisa saja sama-sama buruk jika tak saling kerja sama. Desainer berpatokan bahwa dirinya adalah problem solver sedangkan klien berpatokan bahwa dirinya adalah produser. Dua-duanya tidak sama-sama benar tidak juga salah. Mereka hanya tidak mau mengalah untuk tujuan bersama.

Sebenarnya topik ini bisa melebar kemana-mana jika membahas Desainer vs Klien. Jadi, mungkin segitu dulu prespektif saya dengan Idealis vs Realis. Langkah selanjutnya yang perlu kalian lakukan adalah teruslah membaca…*maksudnya baca buku!

Salam pramuka!

 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Pin It on Pinterest

Share This